Psikiatri: Kelola Stres dan Depresi, Tuntaskan dengan Terapi

doc1

Anti depresan dapat diberikan kepada penderita dengan depresi ringan hingga berat, tergantung kemampuan pasien mengatasi depresi tersebut.

“Jangan ganggu deh, aku lagi stress nih.” Betapa sering terdengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut seseorang ketika merasa berada dalam tekanan tertentu. Stres, seperti merupakan gambaran bahwa apa yang dialami seseorang sudah melewati batas kemampuannya. Apakah sebenarnya stres itu? “Stres merupakan respons psikologik dan tubuh terhadap peristiwa-pristiwa yang membuat keseimbangan seseorang terganggu,” kata DR. Dr. Nurmiati Amir, SpKJ, dari Bagian Psikiatri FKUI/RSCM. Stres atau ketegangan terjadi apabila sesuatu di lingkungan merupakan ancaman terhadap nyawa, bahaya, dengan kemungkinan cedera, kehilangan, atau kemungkinan kehilangan keamanan, harga diri, atau sumber kehidupan. Definisi lain stres adalah sebagai suatu tenaga yang mendesak yang dapat mengganggu substansi organik dan inorganik, serta mempunyai tingkat toleransi. “Apabila ia berlebihan dan melampaui tingkat toleransi kerusakan sementara atau permanen dapat terjadi,” kata Nurmiati.

F:\My Documents\New Folder (2)\Kelola Stres dan Depresi, Tuntaskan dengan Terapi_files807.jpgNamun Nurmiati mengatakan, bahwa stres tidak selalu buruk dan berbahaya. Ia bisa merupakan sesuatu yang perlu dan menguntungkan. “Seseorang bisa tumbuh lebih matang dengan adanya stres. Bahkan, ada orang yang hampir selalu membutuhkan stres untuk eksistensinya,” ujarnya. Stres seperti disebut eustres. Stres yang tidak diinginkan dan tidak dapat dikelola, akan merusak, yang disebut distres.

Faktor kepribadian memegang peranan penting dan sangat menentukan kemampuan seseorang berinteraksi dengan stres yang dihadapinya. Perbedaan kepribadian dapat mengakibatkan perbedaan bentuk respons seseorang walaupun yang dihadapi sama.

Stres yang tidak dapat ditanggulangi dapat berlanjut hingga menimbulkan gangguan cemas, depresi, atau gangguan psikosomatik lain. Di Indonesia, prevalensi gangguan cemas atau anksietas berkisar antara 9 hingga 12 persen. Sedangkan prevalensi depresi di adalah 17 hingga 27 persen.

Pengobatan Depresi

Ada depresi yang dapat sembuh tanpa diterapi, artinya dapat hilang ketika depresi itu masih berada dalam tahap yang wajar. Namun ada pula depresi yang memerlukan proses penyembuhan bertahun-tahun. Diagnosis perlu dilakukan sedini mungkin sehingga tindakan yang membahayakan seperti bunuh diri dapat dicegah. Beberapa tindakan pemeriksaan awal yang biasanya dilakukan adalah pemeriksaan fisk meliputi berat badan, tekanan darah, alat vital dan jantung. Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksaan kondisi jantung, kadar alkohol dan obat, serta fungsi tiroid. Pemeriksaan lain adalah adalah pemeriksaan psikologi dengan cara pemberian kuisioner dan investigasi perasaan, pikiran dan bentuk perilaku untuk mengetahui penyebab depresi sebelum mendapat pengobatan lebih lanjut.

Terapi untuk mengatasi depresi dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu farmakoterapi dan psikoterapi. Farmakoterapi merupakan terapi dengan menggunakan obat anti depresan yang bekerja dalam otak untuk mengubah mood pasien. Peresepan obat anti depresan disesuaikan dengan kondisi pasien. Salah satu obat yang digunakan adalah dari golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).

Sedangkan terapi lain adalah psikoterapi, yang merupakan terapi dalam bentuk konseling yang selain membahas pikiran dan perasaan, pasien diajak untuk untuk melihat dan mengetahui penyebab depresi yang dialaminya. Selain itu pasien juga belajar untuk mengidentifikasi masalah, mengubah persepsi dan perilaku negatif, mencari jalan keluar yang efektif untuk mengatasi masalah dan tujuan hidup yang realistis. Psikoterapi membantu membangun kembali rasa kebahagiaan yang mungkin untuk dicapai, mengatur kontrol diri, dan mengurangi gejala depresi.

Nurmiati mengatakan pemberian obat depresi diberikan kepada bermacam-macam penderita depresi mulai dari yang tingkatannya ringan, sedang hingga berat. “Meski depresinya ringan, namun bagi seseorang dapat menjadi sedang atau berat, bisa diberikan,” ujar Nurmiati. Jadi, bila kemampuan seorang mengatasi depresi itu sendiri lemah, meski hanya mengalami depresi ringan, obat dapat diberikan. Sedangkan jika sudah sampai pada tingkat sedang atau berat, maka obat biasanya diberikan. “Obat antidepresan juga tidak menimbulkan ketergantungan,” kata Nurmiati.

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s