media zaman now

Media adalah suatu perantara untuk menyampaikan informasi. jadi media hanyalah alat yang bisa digunakan untuk kebaiakan atau keburukan. lalu pilihan manakah kita? tentu kita maunya untuk kebaikan, walaupun kadang nafsu dan syetan selalu menggoda manusia agar menggunakan alat-alat tersebut untuk keburukan.

Guru Mulia Al-Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz berkata:
”Jadikanlah TV, HP, Internet dan alat alat teknologi lainnya sebagai pelayan dan pembantu untuk AGAMAmu, jika tidak maka alat alat itu akan menghancurkan dirimu, sedangkan engkau akan tertawa karena tidak menyadarinya, ia hanya akan merusak Hatimu, Akalmu, Akhlakmu, dan Fikiranmu, tanpa engkau menyadarinya..
Manusia akan MATI kapanpun tetapi TULISAN akan KEKAL selama lamanya, maka tulislah Kata kata yang akan menyebabkan kita GEMBIRA di Akherat kelak”

maka sebaiknya kita mulai saat ini benar-benar menggunakan media sebagai alat untuk kebaikan dan menyebarka kebaikan yang bermafaat baik dunia maupun akhirat.

 

allahu a’lam

Iklan

Doa Sholat Witir

Bismilllah walhamdulillah, washsholatu wassalamu ‘ala rasulillah wa ala alihi  wa shohbihi waman walah.

sholat witir adalah sholat sunnah yang di lakukan antara setelah sholat isya sampai sebelum subuh dengan bilangan rokaat ganjil. Hukum sholat witir adalah sunnah muakkad, karena nabi muhammad shollallahu alaihi wasallam selalu melakukannya.

JUMLAH RAKA’AT SHALAT WITIR

Jumlah shalat sunnah witir paling sedikit 1 (satu) raka’at dan tidak ada batasan berapa roka’at jumlah maksimalnya.

Yang paling utama adalah 11 (sebelas) roka’at dan dilakukan dengan salam setiap 2 (dua) raka’at dan diakhiri dengan 1 (satu) raka’at.

Sah hukumnya shalat witir yang lebih dari 11 roka’at namun demikian sebaiknya diakhiri dengan ganjil seperti 13, 15, 17 rokaat, dst.

BACAAN SHALAT WITIR

Bacaan wajib adalah surat Al-Fatihah dan tahiyat (tasyahud)
Bacaan sunnah (dibaca setelah Al-Fatihah):
Rakaat pertama surat Al-A’la (سبح اسم ربك الأعلى)
Rakaat kedua baca surat Al-Kafirun (قل ياأيها الكافرون)
Rakaat ketiga baca 3 surat yaitu Al-Ikhlas (قل هو الله أحد), Al-Falaq, dan An-Nas.

KEUTAMAAN SHOLAT WITIR

doa sholat witir

 

DOA SETELAH SHOLAT WITIR

Ada dua doa yang bisa diamalkan sebagai berikut:

[1]

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

Subhaanal malikil qudduus –dibaca 3x- [artinya: Maha Suci Engkau yang Maha Merajai lagi Maha Suci dari berbagai kekurangan]” (HR. Abu Daud no. 1430, An-Nasai no. 1735, dan Ahmad 3: 406. Al-Hafizh Abu Thahir mengatkaan bahwa sanad hadits ini shahih)

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,

فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ :« سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فِى الآخِرَةِ يَقُولُ :« رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ »

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam, beliau mengucapkan, ‘Subhaanal malikil qudduus’ sebanyak tiga kali dan di suara ketiga, beliau memanjangkan suaranya. Lalu beliau mengucapkan, ‘Rabbil malaikati war ruuh.’ ” (HR. As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi 3: 40 dan Sunan Ad-Daruquthni 4: 371. Tambahan ‘rabbil malaikati war ruuh’ adalah tambahan maqbulah yang diterima).

[2]

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Allahumma inni a’udzu bi ridhaoka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” -dibaca 1x- [artinya: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Selain itu dalam kitab abwabul faraj untuk membaca tasbih dzun nun atau nabi yunus alaihissalam 40x (laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zolimin)

Istikharah dan Musyawarah

Alhamdulillahi robbil ‘alamiin

Allahumma sholli wa sallim ‘ala nabiyina muhammad wa ala aali Muhammad.

Islam merupakan agama yang sangat komplek dalam memahami kehidupan manusia, setiap urusannya sudah tercantum sop penyelesaianya di AlQuran dan Hadis, hanya saja manusia diciptakan dalam keadaan tergesa-gesa sehingga kurang sabaran dalam menghadapi problematika hidup.

Jika kita di hadapkan dalam suatu permasalahan yang rumit dan kita bingung untuk memilihnya, maka kita bisa mengerjakan sholat istikharah dan bermusyawarah.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَلِّمُ أَصْحَابَهُ الاِسْتِخَارَةَ فِى الأُمُورِ كُلِّهَا ، كَمَا يُعَلِّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ يَقُولُ « إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu, lalu hendaklah ia berdo’a: “Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” [HR. Bukhori no 7390].

lakukanlah sholat istikhoroh 3 – 7x sampai muncul kemantapan dalam hati dan bukan dalam mimpi.

selama masa istkhoroh kita dapat bermusyawarah dengan orang-orang yang ahli di bidangnya atau yg lebih berilmu,

sabda Nabi saw.:

  مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ
Tidak akan rugi orang yang istikharah, dan tidak akan menyesal orang yang musyawarah. (HR. Aththabrani)

wallahua’lam

Apakah kalian sudah sholat??

Syeikh Ibnu Atha’illah mengungkapkan,

Syeikh Abu Al-Hasan Al-Syadzili RA didatangi beberapa fukaha (para ahli fikih) dari kota Iskandariyah. Mereka datang untuk menguji Syeikh Imam Abul Hasan. Beliau mencermati semua dari mereka lalu bertanya,

“Wahai fukaha, apakah kalian menunaikan solat?”

Mereka menjawab,

“Ya Syeikh, mungkinkah ada di antara kami yang tidak solat?”

Syeikh Abul Hasan menegaskan,

“Allah berfirman, manusia diciptakan dalam keadaan berkeluh-kesah. Kalau ditimpa musibah, dia gelisah dan kalau mendapat kebaikan dia bakhil, kecuali orang yang solat. Nah, apakah keadaan kalian seperti itu?”

Jika mendapat musibah, kalian tidak gelisah dan kalau mendapat kebaikan kalian tidak kedekut?’ Mereka terdiam. Lalu beliau melanjutkan,

“Kalau begitu, kalian belum solat.”

Kisah yang disampaikan oleh Ibnu Athaillah dalam ungkapan hikmahnya ini menegaskan manfaat solat. Selain mencegah perbuatan keji dan mungkar, solat juga menjadi obat bagi hati agar tidak gelisah dan resah, serta selalu redha kepada Allah. Sebab, hati orang yang solat selalu terhubung kepada Allah. Ia tidak meminta kepada selain Dia, tidak takut kepada selain Dia, serta selalu memuji Allah, saat senang mahupun susah. Jika mendapat musibah, dia mengucap inna lillah wa inna ilayhi raji’un. Dia menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Sebab, segala sesuatu berada di tangan-Nya.

Apabila Allah menganugerahi nya nikmat, dia memberi kepada fakir miskin apa yang menjadi hak mereka. Dia menunaikan zakat dan bersedekah di jalan Allah. Semua itu dilakukan untuk meraih redha Allah SWT.

Syeikh Ibnu Atha’illah dalam Kitab Taj Al-‘Arus ~

Hukum Tasyabbuh

saudariku yg kumuliakan,Tasyabbuh adalah menyerupai adat suatu kaum dengan tanpa manfaat yg jelas selain kecintaan pada kaum tsb dan bangga atas adat kaum tsb.

memakai komputer bukan tasyabbuh(yang dilarang), karena membawa manfaat, tasyabbuh yg dilarang adalah mencintai kuffar hingga mengikuti adat istiadat mereka dan menghinakan dan meninggalkan adat istiadat islam dan sunnah nabi saw.

tasyabbuh itu bisa haram, makruh, mubah, sunnah, dan wajib.

misalnya kita menikah dengan pakaian adat jawa bagi kaum pria, maka hal itu mubah dan bukan tasyabbuh bilkuffar, walaupun pakaian itu dipakai oleh penduduk jawa pra islam, karena ia hanya mengikuti adat saja dalam menikah di wilayahnya, bukan berniat menghinakan syariah dan sunnah serta meninggalkan pakaian islami dan memakai pakaian tsb, karena pakaian tsb tidak lepas dari syariah islam,

berbeda dengan pakaian pengantin wanitanya yg membuka aurat, benar ucapan anda bahwa ia tidak terkena dosa tasyabbuhnya namun terkena dosa membuka auratnya.

memakai dasi dan jas bagi muslimin tidak dilarang dalam syariah, kecuali jika ia bangga dan merasa hal itu jauh lebih mulia daripada pakaian sunnah, maka hal itu terkena dosa tasyabbuh

Tasyabbuh yg haram adalah mengikuti adat istiadat kaum non muslim seraya merasa hina menggunakan adat islami.

Tasyabbuh yg makruh adalah mengikuti adat istiadat kaum non muslim tanpa manfaat apa apa, contohnya memakai jas dan dasi untuk beribadah shalat jumat misalnya, bukankah ia lebih baik menggunakan asesoris sunnah saat itu?, maka perbuatannya ini menjadi makruh.

Tasyabbuh yg mubah adalah mengikuti kebiasaan non muslim tapi sesekali tidak menghinakan sunnah Nabi saw, contohnya makan dengan sendok dan garpu.

Tasyabbuh yg sunnah adalah mengikuti adat non muslim yg baik, misalnya memakai komputer, handphone, dan sarana sarana baru yg padanya terdapat banyak manfaat yg diambil, maka hal ini menjadi sunnah, terbukti dengan dalil ketika Rasul saw melihat para yahudi berpuasa pada hari asyura maka Rasul saw turut memerintahkan para sahabat puasa di hari asyura, bukankah ini mengikuti adat yahudi..?, namun hal itu diperbuat ole Rasul saw karena membawa manfaat, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari.

Tasyabbuh yg wajib adalah jika tak dilakukan maka akan membahayakan diri atau mencelakai muslimin, misalnya taat pada lampu merah, tentunya itu adat kaum non muslim, namun jika tak dituruti maka akan mencelakai diri atau orang lain, maka menjadi wajib.

Demikian saudariku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a’lam

Allahuma sholi ‘ala sayidina muhammad nabiyil umiyi wa ‘ala ‘alihi wa shohbihi wasalim…

Alhabib Munzir bin Fuad Almusawwa

Foto Para Pecinta Ulama Habaib Was Sholihin.