Jangan lelah untuk bertaubat

Kita sebagai anak cucu Nabi Adam alaihissalam tidak pernah bebas dari kesalahan, ada kesalahan-kesalahan kecil yang sering kita lakukan, bahkan tak jarang kesalahan kesalahan besar kita lakukan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shollallah alaihi wasallam

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Semua bani Adam sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat. [HR. Ibnu Majah, at-Tirmidzi dan lain-lain. Hadits ini hasan, menurut syaikh al-Albani rahimahullah]

Maka jangan berkecil hati jika kita merasa banyak dosa, malah bersyukur karena Allah menitipkan perasaan berdosa di hati kita, dari pada mereka yang keras hatinya sehingga tidak merasa berdosa.

Kita juga harus mengakui bahwa amal ibadah kita banyak yang tidak sempurna, banyak yang masih salah, penuh dengan cacat dan kekurangan.

Oleh karena itu teruslah bertaubat, meminta ampun pada Allah, karena seeungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang

Gantungkan harapanmu hanya kepada Allah

Melatih tawakkal, melatih percaya kepada Allah, perlu latihan.

Tidak serta merta bisa langsung tawakkal dan punya iman yang tinggi, hanya orang-orang pilihan Allah yang dimampukan oleh Allah untuk dapat karunia tersebut.

Dalam surat al insyiroh ayat terakhir disebutkan wa ila robbika farghob. Hanya kepada Tuhanmu lah kamu berharap. Maka apapun hajat kita, keperluan kita, masalah kita..berharaplah nomer satu hanya kepada Allah.

Kita engkau sakit, apa yg ada dibenakmu pertama kali?

Kok aku sakit, kenapa ya?

Cari obat apa ya?

Ke dokter mana ya?

Lalu dimana kah Allah? Wa ila robbika farghob.

Ke Allah dulu, sadari bahwa sakit adalah ujian, sabar dan terima dengan rido ujian tersebut lalu berharaplah kesembuhan pada Allah As Syaafi.

Ketika motormu atau mobilmu bermasalah? Kemana kamu berharap? Ke bengkel? Montir?

Mari kita belajar, berlatih agar menggantungkan harapan kita kepada Allah selanjutnya bertawakkal dan serahkan urusan pada Allah.

Perkataan yang baik dan pemberiaan maaf lebih baik dari sedekah?

Ya, kata sedekah dalam bahasa arab artinya benar, maka setiap perbuatan yang benar adalah sedekah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad (Allahumma sholi alaih):

كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ – أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ

Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Bukhari)

Jadi, sedekah tidak hanya berupa materi, tidak hanya memberikan makan, akan tetapi ketika engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang manis dan senyum yang ceria itu juga sedekah, engkau menyingkirkan duri atau sampah di jalan juga sedekah, engkau gunakan tubuh untuk sholat dan berdzikir juga sedekah.

Banyak hal yang bisa kita gunakan untuk sedekah, dan jangan sampai sedekah materi kita di iringin dengan perkataan yang menyakitkan hati. misalkan saya bersedekah kepada fulan, kemudian saya iringi dengan makian ‘kamu kalau ndak saya kasih duit, bagaiamana bisa makan!?” wal ‘iyadzu billah, jangan sampai kita bersedekah materi kemudian kita menyakiti hatinya, lebih baik kita ungkapkan “Alhamdulillah ini ada sedikit rizki, semoga bermanfaat untuk saudara dan semoga saudara diberikan jalan keluar dari kesempitan rizki” tentu hal ini lebih baik, selain sedekah materi kita juga sedekah perasaan.

Allah berfirman dalam surat Al Baqoroh ayat 263:

 قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى ۗ وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.

Maka jika kita hendak bersedekah, perhatikan etika kita dalam bersedekah, hakikatnya Allah yang memudahkan dan memampukan kita untuk bersedekah, maka selain sedekah materi, sedekah juga perasaan dan perkataan yang baik.

sebagaimana dikisahkan oleh Syekh Ali Thanthawi dengan anaknya:

Semalam aku melihat anak gadisku mengambil sedikit nasi ditambah dengan beberapa sayur buncis. Ia meletakkannya di atas piring kaleng. Setelah itu ia tambahkan lagi beberapa potong terong, mentimun dan beberapa butir kacang polong. Selanjutnya ia bergegas keluar rumah.

Aku segera mencegat dan bertanya,

“Untuk siapa makanan ini?”

Dia menjawab ,”ini untuk satpam penjaga rumah, nenek menyuruhku melakukan ini, jawabnya.” 

Lalu aku berkata :

“Coba ambil satu buah piring kaca, letakkan semua makanan ini di atasnya, dan atur letaknya dengan bagus.Setelah itu letakkan piring ini di atas baki, dan sertakan dengannya sendok-garpu dan segelas air.”

Anak gadisku segera melaksanakan sesuai arahanku dan mengantarkan makanan itu kepada satpam rumah.

Saat ia kembali, ia bertanya :

“kenapa abah menyuruhku melakukan hal itu?”

Aku menjawab :

“Makanan itu sedekah dengan  “HARTA”, sedangkan menyajikannya dengan indah itu adalah sedekah dengan “PERASA’AN”. Sedekah yang pertama dapat memenuhi perut, sedangkan yang kedua memenuhi hati. Sedekah dengan harta akan menimbulkan perasaan di hati satpam bahwa ia seorang peminta-minta yang kita beri sisa-sisa makanan. Adapun sedekah dengan perasaan akan menimbulkan rasa bahwa ia adalah teman akrab kita atau tamu kita yang terhormat.

Di sana ada perbedaan yang amat siknifikan antara pemberian dengan harta dan pemberian dengan jiwa/perasa’an.

Pemberian dengan jiwa, penuh nilai perasa’an, besar nilainya di sisi Allah SWT dan di dalam perasaan orang yang menerima sedekah.

Apa tujuan sedekahmu?

Banyak sekali orang melakukan amal sholih dengan tujuan yang berbeda-beda, ada yang beramal sholih untuk tujuan dunia, seperti pangkat, jabatan, uang, kekayaan dan lain sebagainya. adapula yang beramal sholih dengan tujuan mendapat keuntungan akhirat, selamat dari azab kubur, dinaungi di padang mahsyar atau di jauhkan dari Api Neraka.

secara pembahasan fiqih sudah pernah di bahas di blog ini tentang 3 tingkatan Ikhlas dalam beramal, jadi silahkan cari sendiri ya artikelnya.. 🙂

akan tetapi dalam artikel ini saya ingin khusus membahas sedekah hanya untuk Allah..

Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh ayat 272:

وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ

Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari wajah Allah

Dalam surat Al Lail ayat 20:

اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْاَعْلٰىۚ

Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi

dari 2 ayat diatas, Allah ingin agar kita dalam berinfaq atau bersedekah, semata-mata hanya mengharap wajah/rido Allah Subhanahu wa Ta’ala. jika kita sudah berinfaq hanyak tujuan ‘lillaah’ maka tidak perlu khawatir akan kebutuhan atau hajat-hajat kita, Allah pasti lebih tau apa yg menjadi hajat kita dan kapan Allah kabulkan permintan-permintaan kita.

yakinlah pada Allah, Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita, jangan lelah berdoa dan meminta pada Allah, tapi yakinlah Allah akan memberi apa yg terbaik untuk kita, bukan yang terbaik menurut kita. kita mengetahui bahwa diri kita lemah, maka ada Allah Yang Maha Kuat mampu menguatkan kita. kita fakir, maka ada Allah Yang Maha Memberi Rizki meberikan rizki Nya untuk kita. lalu untuk apa sedih, gundah, galau jika semua sudah dipersiapkan oleh Allah Yang Maha Tinggi? yakin dan tawakkal hanya kepada Allah.

lihatlah ayat berikut:

وَمَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ وَتَثْبِيْتًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۢ بِرَبْوَةٍ اَصَابَهَا وَابِلٌ فَاٰتَتْ اُكُلَهَا ضِعْفَيْنِۚ فَاِنْ لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Baqoroh, ayat 265)

jadi jangan takut berinfaq untuk Allah 🙂

Apa fokus tujuan kita?

Dalam episode kehidupan ini kadang kita berfikir, apa sebenarnya tujuan hidup kita?

padahal sudah di beritahukan oleh Allah melalui Firman Nya dalam surat Adz Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Berarti kita hidup untuk Allah, mengabdi kepada Allah, mati pun untuk Allah..sebagaimana dalam bacaan iftitah “inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamaati lillahi rabbil ‘alamiin” artinya sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Alam.

tetapi pada prakteknya kita masih disibukkan dengan tujuan-tujuan yang tidak jelas, tujuan jangka pendek dan tujuan yang fana akan hancur, tidak kekal selama-lamanya.

seorang anak kecil disuruh sekolah agar pintar, mendapat rapor dan ranking yang bagus, dapat membanggakan orang tua dapat bekerja di perusahaan bonafid, dan sebagainya.. yang semua tujuanya adalah mengumpulkan dunia.

bukankah itu siklus ritme kehidupan kita?

jika ada orang yang belajar agama akan disepelekan, nanti kamu mau di gaji berapa? makan apa? ndak bisa kaya, dan lain sebagainya..

ironi bukan?

padahal sudah jelas tujuan hidup kita dan makna bacaan iftitah kita.

Maka sudah saatnya kita memperbaikin MINDSET kita, memperbaiki qolbu kita agar kita mempunyai arah tujuan yang jelas, sehingga kita dapat fokus pada tujuan kita yang sesungguhnya.

Tujuan kita yang utama ialah ALLAH

فِرُّوا إِلَى اللَّهِ

Maka berlarilah menuju Allah (Q.S. Adz Dzariyah ayat 50)

 إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّي

sesungguhnya aku berhijrah kepada Tuhanku (Q.S. Al Ankabut ayat 26)

maka hakikatnya Allah lah tempat yang kita tuju.. jika kita menuju Allah maka jadikanlah akhirat sebagai fokusmu.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا


Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Q.S. Al Isra ayat 18)

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا


Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (Q.S. Al Isra ayat 19)

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

dari kedua dalil diatas maka hendaknya kita fokuskan tujuan kita hanya untuk Allah, ikhlas dalam beramal, tidak risau dengan apa yang sudah di takdirkan Allah kepada kita. jalani hidup dengan kesabaran, penuh rido, ikhlas dan tawakal, maka inysa Allah jalan kita akan dimudahkan..amiin