Jilbab

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya, kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya.(HR. Abu Daud)
.
Allah berfirman, “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri. Tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu)…” (QS. An-Nisa: 23)
.

Dari kedua ayat tersebut, diketahui bahwa perempuan muslimah boleh melepas jilbab hanya di hadapan 18 golongan orang. Yaitu suami, ayah kandung, mertua, putra/anak lelaki, putra suami (anak tiri), saudara lelaki kandung, putra-putra saudara lelaki (keponakan lelaki), putra-putra saudara perempuan (keponakan lelaki), anak lelaki kandung, om/paman, anak susuan, saudara lelaki sepersusuan, menantu lelaki, ayah tiri, perempuan muslim, budak-budak, pelayan lelaki yang tak mempunyai keinginan terhadap perempuan, dan anak-anak yang belum mengetahui aurat.

Oleh karena itu, perempuan boleh melepas jilbabnya saat berada di rumah apabila dalam keadaan tertentu saja. Yaitu apabila di rumah tidak ada lelaki non mahram, ataupun ketika berada di depan 18 orang golongan tersebut. Namun jika ada lelaki non mahram di rumah, maka seorang perempuan wajib menutup auratnya. Kemudian ia boleh melepaskan jilbabnya kembali jika pria non mahram tersebut telah pergi.

Sehingga apabila seorang perempuan ingin menyapu teras atau halaman rumah, maka ia diwajibkan untuk menggunakan jilbab. Pasalnya, teras atau halaman rumah sudah pasti berada di tepi jalan sehingga akan ada orang lain yang berlalu-lalang di jalan tersebut. Dengan demikian, perempuan tersebut harus tetap menggunakan jilbab saat menyapu teras ataupun halaman rumahnya meskipun ia berada di lingkungan rumahnya sendiri.

Sumber: islami(dot)co

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.