Glaukoma Yang Diinduksi Obat

GLAUKOMA YANG DIINDUKSI OBAT

Penulis: Douglas J Rhee, MD, Assistant Professor, Department of Ophthalmology, Harvard Medical School; Consulting Staff, Massachusetts Eye and Ear Infirmary
Asisten Penulis: Steven Gedde, MD, Program Director, Assistant Professor, Department of Ophthalmology, Bascom Palmer Eye Institute, University of Miami School of Medicine
Update: 18 Mei 2009

Pendahuluan

Latar Belakang

Beberapa obat mempunyai potensi untuk menaikkan tekanan intraokuler (TIO), melalui mekanisme sudut terbuka atau sudut tertutup. Glaucoma yang diinduksi oleh steroid merupakan bentuk dari glaucoma sudut terbuka yang dihubungkan dengan penggunaan obat steroid topical, tetapi dapat juga bersamaan dengan steroid inhalasi, oral, intravena, periokuler atau intravitreal. Peresepan obat untuk berbagai penyakit sistemik (depresi, alergi, penyakit Parkinson) dapat menyebabkan dilatasi pupil dan mempercepat serangan glaucoma sudut tertutup dan predisposisinya pada mata yang secara anatomis memiliki sudut sempit.

Sudut terbuka

Kenaikan TIO yang diinduksi obat umumnya karena mekanisme sudut terbuka. Kortikosteroid merupakan kelas obat yang dapat menyebabkan kenaikan TIO. Tidak semua pasien yang menggunakan kortikosteroid dapat menyebabkan kenaikan TIO. Faktor risikonya pada penderita yang sudah menderita glaucoma primer sudut terbuka, riwayat keluarga terdapat glaucoma, myopia yang tinggi, diabetes mellitus, dan riwayat penyakit jaringan ikat (arthritis rheumatoid).

Jumlah pasien yang berrespon terhadap kenaikan TIO berbeda-beda sehubungan dengan cara pemberian obat. Sebagian besar pasien berespon terhadap kortikosteroid topical yang diteteskan (termasuk juga krim pada arean periorbital) atau injeksi intravitreal. Oleh karena itu untuk menurunkan frekuensi dan insidensi kenaikan TIO yaitu dengan menggunakan cara pemberian secara intravena, parenteral dan inhalasi. Pada pasien yang mendapat kortikosteroid jangka panjang dapat tidak terdiagnosis dengan kenaikan TIO dimana dapat berakhir dengan kerusakan nervus optic.

Kenaikan TIO yang diinduksi oleh steroid dapat terjadi dalam beberapa minggu sejak pemberian awal steroid. Pada banyak kasus, TIO dapat menurun secara spontan dalam beberapa minggu sampai bulan setelah steroid dihentikan. Pada kasus yang jarang, TIO tetap meninggi. Sebagai tambahan, ada beberapa pasien yang dalam kondisi tertentu mengharuskan tetap meneruskan konsumsi steroid sekalipun menaikkan TIO. Pasien tersebut diobati seperti pengobatan glaucoma primer sudut terbuka.

Sudut tertutup

Banyak kategori obat yang mencantumkan glaucoma sebagai kontraindikasi atau efek samping yang dapat menginduksi glaucoma sudut tertutup. Obat-obat tersebut dapat mendorong serangan glaucoma hanya pada individu dengan sudut yang occludable (bilik mata depan yang sangan sempit). Kelas obat yang dapat menginduksi glaucoma sudut tertutup adalah antikolinergik topical, simpatomimetik drop, trisiklik antidepresan, monoamine oksidase inhibitor, antihistamin, obat antiparkinson, obat anti psikotik dan antispasmolitik agen.

Obat yang mengandung sulfa dapat menginduksi glaucoma sudut tertutup dengan melalui mekanisme yang berbeda, yaitu melibatkan rotasi anterior dari badan siliar. Glaukoma sudut tertutup biasanya bilateral dan dapat terjadi dalam beberapa dosis awal dari penggunaan sulfonamide. Pasien yang mempunyai sudut sempit atau lebar berpotensi tekena serangan ini dan terkena reaksi iridosyncratic.

Baca lebih lanjut

Iklan

KERATODERMA

  1. I. Definisi

Keratoderma adalah suatu kondisi pembentukan keratin pada telapak tangan dan kaki yang berlebihan(1).

  1. II. Sinonim

Keratoma, hyperkeratosis, keratosis, tilosis.

  1. III. Klasifikasi

Ada 2 bentuk: didapat dan congenital.

Keratoma yang didapat ialah keratoderma klimakterium dan keratoma plantar sulkatum. Keratoma congenital ialah keratoderma palmoplantar herediter, contohnya iktiosis, keratosis pungtata palmoplantar, keratoderma familial dengan karsinoma pada esophagus. Sindrom papilon Lefevre ialah kelainan resesif autosomal, terdiri atas hyperkeratosis palmaris et plantaris, gingivitis dan periodontosis. Keratoderma biasanya terdapat pada dermatitis yang menahun, psoriasis, ptiriasis rubra pilaris, keratosis folikularis, dan parakeratosis(2).

Pembagian keratoderma menurut FRANCESCHETTI dan SCHNYDER :

  1. X-linked dominant
  2. X-linked recessive
  1. IV. Gejala Klinis
    1. Keratoderma klimakteriumm

Hiperkeratosis telapak tangan dan kaki terutama pada tumit pada masa klimakterium. Kelainan tersebut terdapat terutama pada tempat tekanan. Pada tempat-tempat hyperkeratosis sering terjadi fisura(3).

Pada gambaran objektif dapat tampak hyperkeratosis nummular dengan skuama dan fissure dangkal dengan dasar kemerahan(4).

  1. Keratoma plantar sulkatum

Penyakit ini terdapat pada daerah tropic. Epidermis telapak kaki terutama bagian depan dan tumit sangat menebal dan berwarna kekuningan, terdapat pula belahan yang dalam berwarna hitam. Tanda khas ialah lubang-lubang sedalam 1-7 mm pada telapak kaki, tidak disertai tanda-tanda radang. Penderita mengeluh nyeri pada kaki bila banyak berjalan. Penyakit berhubungan dengan musim, timbul pada musin hujan dan menghilang pada musim kemarau.

ACTON dan Mc. GUIRE (1931) menemukan jasad renik tergolong group Actinomycetes dan menamakannya keratolisis plantar sulkatum. ZAIAS dkk. mendemonstrasikan adanya organism Gram positif yang  bercabang dan berfilamen dan memberi nama pitted keratolysis pada penyakit ini. Kelainan ini sering terdapat pada tentara yang memakai sepatu bot yang terus menerus lembab. Pengobatannya solusio formalin 20-40% dalam akua(2).

  1. Keratoderma palmoplantar hereditarum

Pada penyakit ini yang khas ialah penebalan menyeluruh yang nyata pada telapak tangan dan kaki yang simetrik. Kadang-kadang penebalan meluas ke lateral atau dorsal, terutama pada punggung sendi jari tangan. Lekukan telapak kaki, umumnya bebas. Epidermis menjadi tebal, kering, verukosa, dan bertanduk. Bentuk strie dan berlubang dapat terlihat. Sering terdapat hiperhidrosis. Kadang-kadang terlihat kelainan pada kuku yang menjadi tebal, kabur dan berubah bentuk. Iktiosis atau anomaly congenital dapat dijumpai. Pengobatnnya: asam salisil 5% dalam salep diakilon; rendam dalam 30% urea, 10% NaCl dalam salep hidrofilik. Pada kasus yang berat dapat dipertimbangan skin graft(2).

  1. Keratosis pungtata palmoplantar

Penyakit ini dapa terjadi pada semua umur, mulai dari akil balig. Hiperkeratosis terletak pada banyak titik-titik penonjolan tanduk yang datar, miliar sampai lentikular, berwarna kuning abu-abu. Penonjolan makin lama makin membesar, lebih besar pada telapak kaki dari pada telapak tangan, terutama pada tumit dan tempat-tempat yang mendapat tekanan. Penyakit ini diturunkan secara dominan autosomal. Keratosis semacam itu sering disebabkan oleh arsen(2).

  1. V. Pemeriksaan Penunjang

Secara histopatolgik, pada palmoplantar terdapat akantosis. Pada keratosis pungtata terdapat sumbatan keratotik berbentuk cone-shaped keratotic plug(2).

  1. VI. Pengobatan

Penanganan keratoderma ditujukng dan untuk menambah hidrasi stratum korneum, menipiskan skuama, menormalkan proliferasi epidermal atau menekan proliferasi epidermal. Beberapa obat yang digunakan antara lain:

  1. Propilen glikol 60% dalam air dioleskan pada lesi dengan oklusi tiap malam selama 2-3 malam. Larutan sebaiknya dioleskan pada kulit yang telah dibasahi. Dengan meningkatnya hidrasi ke stratum korneum maka skuama menjadi lunak dan mudah lepas.
  2. Keratolitik misalnya salep salisil (4-6%), salep aapol, salep withfield.
  3. Krim atau losio yang mengandung asam retinoat 0,05%, berfungsi menormalkan proliferasi epidermal juga mempunyai daya keratolitik ringan.
  4. Kortikosteroid topical potensi kuat sampai sangat kuat berfungsi menekan proliferasi epidermal.
  5. Krim urea (10-20%) berfungsi menambah hidrasi dan keratolitik(5).

TERAPI INFEKSI JAMUR SUPERFISIAL

  1. Terapi Umum
    1. Menjaga kebersihan badan.
    2. Hindari kelembaban kulit dan penggunaan pakaian yang tidak menyerap keringat.
  2. Terapi Topikal

Pengobatan topikal digunakan dengan cara dioleskan tipis pada lesi dan sampai 2 cm dari lesi, 1 – 2 kali sehari selama kurang lebih 2 – 3 minggu. Obat-obat topikal antara lain:

  1. Golongan azole : Menghambat sintesis ergosterol sehingga akan menyebabkan membrane sel jamur tidak stabil dan bocor, jamur lemah sehingga tidak dapat bereplikasi. Obat ini bersifat fungistatik.

(Econazole, ketoconazole 2%, clotrimazole 1%, miconazole 2%, oxiconazole 1%, sulconazole 1%, sertaconazole 2%).

2. Golongan allylamine : Menghambat enzim squalene 2-3 epoxidase sehingga akan mengurangi jumlah sterol dan jamur akan mati.

(naftitin 1%, terbinafine 1%).

3. Ciclopirox olamine 1% bersifat fungisid dengan menginterverensi sintesis DNA-RNA dan protein dengan cara menghambat transport elemen esensial pada sel jamur.

4. Golongan asam organic. Contohnya salep withfield yang berisi asam salisilat 3% dan asam benzoate 6%. Sediaan ini bersifat keratolitik sehingga pengaruhnya terhadap infeksi jamur mungkin melalu proses deskuamasi.

5. Haloprogin 1% merupakan antijamur yang efektif pada dermatofitosis dan ragi

6. Golongan tiokarbonat (Tolnaftat 2%, tolsiklat 1%) merupakan antijamur yang efektif terhadap dermatofitosis dan kurang efektif terhadap candida.

7. Asam undesilenat 2 – 5% efektif untuk deramtofitosi tapi tidak untuk candida.

8. Golongan sulfur (selenium sulfida 2,5%) obat ini efektif untuk tinea versikolor

9. Golongan zat warna trifenilmetan (gentian violet 1-2%) efektif untuk kandida.

  1. Terapi Sistemik

Obat sistemik digunakan jika lesi luas, imunosupresi, resisten terhadap terapi topikal. Obat-obat sistemik tersebut antara lain:

  1. Griseofulvin 10mg/kgBB/hari atau 500mg/hari, merupakan obat antijamur yang efektif terhadap dermatofitosis tapi tidak untuk tinea versikolor dan candida.
  2. Ketoconazole 3 – 4mg/kgBB/hari atau 200mg/hari, merupakan obat antijamur yang efektif terhadap kandidosis, mikosis profunda, dermatofitosis dan tinea versikolor.

Untuk pengobatan tinea versikolor 400mg/hari selama 5 hari atau 200mg/hari selama 10 hari.

Untuk pengobatan kandidosis 2 x 200mg/hari selama 5 hari.

Golongan imidazol terbaru:

–          Fluconazole 50 – 100mg/hari atau 150mg sehari.

–          Itraconazole 100mg/hari

3. Terbinafine 250mg/hari, obat ini berefek baik pada dermatofitosis akan tetapi berefek sedang pada kandida.

KERATOSIS SEBOROIK

BAB I

PENDAHULUAN

I. 1       Latar Belakang

Keratosis seboroik merupakan tumor jinak kulit yang paling banyak muncul pada orang yang sudah tua, sekitar 20% dari populasi dan biasanya tidak ada atau jarang pada orang dengan usia pertengahan. Keratosis seboroik memiliki banyak manifestasi klinik yang bisa dilihat, dan keratosis seboroik ini terbentuk dari proliferasi sel-sel epidermis kulit. Keratosis seboroik dapat muncul dalam berbagai bentuk lesi, bisa satu lesi ataupun tipe lesi yang banyak atau multipel.

Walaupun tidak ada faktor etiologi khusus yang dapat diketahui, keratosis seboroik lebih sering muncul pada daerah yang terpapar sinar matahari, terutama pada daerah leher dan wajah, juga daerah ekstremitas.(1)

Secara global atau internasional, keratosis seboroik merupakan tumor jinak pada kulit yang paling banyak diantara populasi di Amerika Serikat. Angka frekuensi untuk munculnya keratosis seboroik terlihat meningkat seiring dengan peningkatan usia seseorang.(2)

I.2        Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui diagnosis dan terapi keratosis seboroik.

Baca lebih lanjut

Obstructive Sleep Apne

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Tidur adalah suatu proses fundamental yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Manusia dewasa memerlukan tidur rata-rata 6-8 jam/hari. Gangguan tidur lebih sering ditemukan pada pria, mulai dari sleep walking, sleep paralysis, insomnia, narkolepsi, sampai sleep apnea. Bentuk gangguan tidur yang paling sering ditemukan adalah sleep apnea (henti nafas pada waktu tidur), dan gejala yang paling sering timbul pada sleep apnea adalah mendengkur.1

Mendengkur merupakan masalah sosial dan masalah kesehatan. Mendengkur merupakan masalah yang mengganggu pasangan tidur, menyebabkan terganggunya pergaulan, menurunnya produktivitas, peningkatan risiko kecelakaan lalu lintas dan peningkatan biaya kesehatan pada penderita OSA. Pendengkur berat lebih mudah menderita hipertensi, stroke dan penyakit jantung dibandingkan orang yang tidak mendengkur dengan umur dan berat badan yang sama.2,3,4

Menurut studi yang ada, mendengkur dan OSA meningkatkan risiko hipertensi dua hingga tiga kali, serta meningkatkan risiko dua kali lipat penyakit koroner atau serangan jantung. Pendengkur dan penderita OSA juga berisiko terserang stroke dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak dengan OSA dan mendengkur.

Mendengkur dan OSA umumnya terjadi pada orang dewasa, terutama pria, usia pertengahan, dan obesitas. Di Amerika Serikat, prevalensi OSA pada kelompok usia di bawah 40 tahun adalah 25 persen pria dan 10 hingga 15 persen perempuan. Adapun pada kelompok usia di atas 40 tahun, prevalensinya mencapai 60 persen pada pria dan 40 persen pada perempuan.5

Baca lebih lanjut