Qiyamul Lail dan Tahajud

Apa Qiyamul Lail?

Qiyam berasal dari bahasa Arab yang artinya bangkit dari duduk. Sementara al-Lail artinya adalah malam, dihitung semenjak matahari terbenam sampai terbitnya fajar shadiq. (dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 34/117).

Dalam istilah para ulama fikih, qiyamul lail didefinisikan dengan menghabiskan waktu malam meskipun hanya satu jam dengan aktivitas ibadah berupa shalat dan selainnya, tanpa ada syarat terus-menerus sepanjang malam. (Mu’jamul Mushthalahat wal Alfadz al-Fiqhiyyah, Mahmud Abdurrahman Abdul Mun’im, 3/130).

Makna qiyamul lail adalah menyibukkan diri di sebagian besar waktu malam dengan aktivitas ketaatan—ada yang mengatakan cukup satu jam—seperti membaca al-Quran, menyimak hadits, bertasbih, atau shalawat. (Maraqil Falah bi Hasyiyah ath-Thahawi, 219. Ibnu Abidin, 1/460, 461).

Aktivitas qiyamul lail tidak hanya sholat, bisa berupa dzikir, belajar ilmu, diskusi ilmiah, membaca Al-Quran dan aktivitas ibadah yang lainnya yang dapat menghidupkan malam.

Dalam kitab ‘Maraqi Al-Falah’: Makna qiyamullail adalah menyibukkan diri pada sebagian besar malamnya untuk beribadah. Ada yang mengatakan, sesaat darinya, baik dengan membaca Al-Quran, atau mendengar hadits, atau bertasbih, atau shalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiah, 34/117)

Apa Tahajud?

Sedangkan tahajjud adalahah adalah shalat malam secara khusus, sebagian ulama mengkhususkannya bahwa dia adalah shalat malam yang dilakukan setelah tidur.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata tentang tafsir firman Allah Ta’ala,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا 

سورة الإسراء: 79 

Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Semoga Tuhan anda membangkitkan pada maqom (tempat) yang terpuji’ QS. Al-Israa’: 79

Tahajjud (التهجد) berasal dari kata (الهجود) maksudnya kata yang maknanya saling berlawanan. Dikatakan (هجد) artinya tidur dan (هجد) artinya bergadang, berdasarkan lawannya.

Maka Tahajjud maknanya adalah bangun setelah tidur, kemudian nama tersebut menjadi nama bagi shalat, karena dia terbangun untuk itu. Maka tahajjud adalah bangun dari tidur untuk shalat. Demikian maknanya sebagaimana dikatakan oleh Al-Aswad, Alqamah, Abdurrahman bin Al-Aswad dan lainnya.

Ismail bin Ishaq Al-Qadhi, meriwayatkan dari Hajjaj bin Amr, shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata, ‘Apakah kalian mengira bahwa jika seseorang beribadah semalaman dia dikatakan telah tahajjud. Yang dinamakan tahajjud adalah shalat setelah tidur, kemudian shalat setelah tidur, kemudian shalat setelah tidur, demikianlah shalat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Ada yang mengatakan bahwa makna (الهجود) adalah tidur. Jika dikatakan (تهجد الرجل) jika dia bergadang dan meninggalkan tidurnya. Orang yang bangun untuk shalat dikatakan sebagai orang yang tahajjud, karena dia meninggalkan tidur pada dirinya. (Tafsir Qurthubi, 10/307)

Daripada Hajjaj bin Amru ra beliau berkata:

كان رسول الله يتهجد بعد نومه

“Rasulullah ﷺ shalat tahajjud selepas tidur.” (HR: Ibnu Abi Khaisamah – hasan).

Ulama Syafi’I dan Maliki memberi definasi shalat tahajjud:

“Shalat sunah pada waktu malam selepas tidur.”

Kapan Waktunya?

Ulama berbeda pendapat.

Waktu Qiyamul Lail:

Pendapat pertama: shalat qiyamul lail adalah shalat sunah yang dilakukan selepas shalat Isya. Ini adalah pendapat Mazhab Hanafi dan sebagian ulama Syafi’i.

Pendapat kedua: Tidak disyaratkan shalat qiyamul lail itu dilakukan selepas Isya’. Waktu shalat qiyamul lail bermula apabila masuk waktu Magrib. Imam Bahuti berkata: “Disunahkan Qiyamul lail. Waktunya bermula dari waktu Magrib sehingga waktu Subuh.”

Waktu Tahajud

Ada dua pendapat mengenai perkara ini seperti berikut:

Pertama: Mazhab Syafi’i

Imam Syarwani berkata: Tahajud menurut istilah ulama Syafi’i adalah shalat sunah yang dilakukan selepas shalat Isya sekalipun sebelum masuk waktu Isya bagi yang melakukan jamak takdim dan hendaklah dilakukan selepas tidur. Tidak masakah apa jenis shalat sunah selama shalat sunah rawatib atau shalat-shalat sunah yang lain.

Kedua: Mazhab Hanafi

Mazhab Hanafi mensyaratkan untuk dihitung shalat tahajjud hendaklah dilakukan selepas masuknya waktu Isya dan dilakukan selepas tidur.

Waktu berakhirnya:

Kebanyakan ulama yang terdiri dari Mazhab Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali mengatakan habisnya masa qiyamul lail dan tahajud adalah bila waktu masuk subuh.

Apakah Tahajud harus tidur terlebih dahulu?

Pendapat pertama mengatakan bahwa shalat tahajud baru dapat dilakukan jika sudah tidur terlebih dahulu. Pendapat ini merupakan pendapat dari Ar-Rafi’I yang merupakan salah satu ulama yang bermadzhab Syafi’i.

Pendapat ini diungkpkan dalam buku yang berjudul As-Syarhul Kabir. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa tahajud merupakan istilah untuk shalat yang dikerjakan setelah tidur. Karena itu, jika shalat tersebut dikerjakan sebelum tidur, maka shalat tersebut tidak dapat disebut sebagai shalat tahajud.

Dalilnya adalah hadis yang diucapkan oleh seorang sahabat Nabi ﷺ yaitu Hajjaj bin Amru ra beliau berkata:

بحسب أحدكم إذا قام من الليل يصلي حتى يصبح : أنه قد تهجد؟ إنما التهجد المرء يصلي الصلاة بعد رقدة ثم الصلاة بعد رسول الله وتلك كانت تلك صلاة رسول الله

“Apakah salah seorang di antara kalian mengira apabila ia mendirikan shalat di malam hari sampai subuh bahwa ia telah bertahajud? Tahajud itu adalah shalat setelah tidur, kemudian shalat setelah tidur, kemudian shalat setelah tidur. Demikian itulah shalatnya Rasulullah ﷺ .” (HR. Thabrani no. 8670)

Sebagian ulama juga ada yang berpendapat bawa shalat tahajud tidak harus tidur dulu. Jadi, semua shalat yang dikerjakan setelah shalat isya bisa disebut sebagai shalat tahajud meskipun sebelumnya orang yang shalat tersebut belum tidur.

Jika merujuk kepada kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, Abu Bakr ibnul ‘Arabi mengatakan bahwa ada tiga pendapat mengenai tahajud, yaitu:

  1. Tidur kemudian shalat lalu tidur lagi dan shalat lagi.
  2. Shalat setelah tidur.
  3. Shalat setelah isya.

Dalam hal ini, yang paling kuat adalah pendapat yang kedua.

Bagaimana dengan sholat witir?

Disunnahkan menyegerakan shalat witir pada awal malam bagi yang takut tidak bisa bangun pada akhir malam. Sebagaimana disunnahkan mengakhirkannya pada akhir malam bagi yang merasa yakin akan bangun di akhir malam.

Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’ Dia menjawab: ‘Aku shalat Witir sebelum tidur.’ Beliau lalu bertanya pada ‘Umar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’ Dia menjawab, ‘Aku tidur kemudian shalat Witir.’” Dia (Abu Qatadah) berkata, “Beliau berkata kepada Abu Bakar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan hati-hati.’ Dan berkata kepada ‘Umar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan kekuatan.’

Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 988)], Shahiih Ibni Khuzaimah (II/145 no. 1084), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/311 no. 1421), Sunan Ibni Majah (I/379 no. 1202).

Demikian mengenai qiyamul lail, tahajud, waktunya dan sholat witir.

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.