Perkataan yang baik dan pemberiaan maaf lebih baik dari sedekah?

Ya, kata sedekah dalam bahasa arab artinya benar, maka setiap perbuatan yang benar adalah sedekah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad (Allahumma sholi alaih):

كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ – أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ

Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Bukhari)

Jadi, sedekah tidak hanya berupa materi, tidak hanya memberikan makan, akan tetapi ketika engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang manis dan senyum yang ceria itu juga sedekah, engkau menyingkirkan duri atau sampah di jalan juga sedekah, engkau gunakan tubuh untuk sholat dan berdzikir juga sedekah.

Banyak hal yang bisa kita gunakan untuk sedekah, dan jangan sampai sedekah materi kita di iringin dengan perkataan yang menyakitkan hati. misalkan saya bersedekah kepada fulan, kemudian saya iringi dengan makian ‘kamu kalau ndak saya kasih duit, bagaiamana bisa makan!?” wal ‘iyadzu billah, jangan sampai kita bersedekah materi kemudian kita menyakiti hatinya, lebih baik kita ungkapkan “Alhamdulillah ini ada sedikit rizki, semoga bermanfaat untuk saudara dan semoga saudara diberikan jalan keluar dari kesempitan rizki” tentu hal ini lebih baik, selain sedekah materi kita juga sedekah perasaan.

Allah berfirman dalam surat Al Baqoroh ayat 263:

 قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى ۗ وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.

Maka jika kita hendak bersedekah, perhatikan etika kita dalam bersedekah, hakikatnya Allah yang memudahkan dan memampukan kita untuk bersedekah, maka selain sedekah materi, sedekah juga perasaan dan perkataan yang baik.

sebagaimana dikisahkan oleh Syekh Ali Thanthawi dengan anaknya:

Semalam aku melihat anak gadisku mengambil sedikit nasi ditambah dengan beberapa sayur buncis. Ia meletakkannya di atas piring kaleng. Setelah itu ia tambahkan lagi beberapa potong terong, mentimun dan beberapa butir kacang polong. Selanjutnya ia bergegas keluar rumah.

Aku segera mencegat dan bertanya,

“Untuk siapa makanan ini?”

Dia menjawab ,”ini untuk satpam penjaga rumah, nenek menyuruhku melakukan ini, jawabnya.” 

Lalu aku berkata :

“Coba ambil satu buah piring kaca, letakkan semua makanan ini di atasnya, dan atur letaknya dengan bagus.Setelah itu letakkan piring ini di atas baki, dan sertakan dengannya sendok-garpu dan segelas air.”

Anak gadisku segera melaksanakan sesuai arahanku dan mengantarkan makanan itu kepada satpam rumah.

Saat ia kembali, ia bertanya :

“kenapa abah menyuruhku melakukan hal itu?”

Aku menjawab :

“Makanan itu sedekah dengan  “HARTA”, sedangkan menyajikannya dengan indah itu adalah sedekah dengan “PERASA’AN”. Sedekah yang pertama dapat memenuhi perut, sedangkan yang kedua memenuhi hati. Sedekah dengan harta akan menimbulkan perasaan di hati satpam bahwa ia seorang peminta-minta yang kita beri sisa-sisa makanan. Adapun sedekah dengan perasaan akan menimbulkan rasa bahwa ia adalah teman akrab kita atau tamu kita yang terhormat.

Di sana ada perbedaan yang amat siknifikan antara pemberian dengan harta dan pemberian dengan jiwa/perasa’an.

Pemberian dengan jiwa, penuh nilai perasa’an, besar nilainya di sisi Allah SWT dan di dalam perasaan orang yang menerima sedekah.

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.