Zakat Profesi

Berikut pendapat-pendapat yg saya rangkung mengenai zakat profesi:

1. BAZNAS

Zakat profesi dianalogikan kepada zakat hasil pertanian yaitu dibayarkan ketika mendapatkan hasilnya, demikian juga dengan nishobnya yaitu sebesar 524 kg makanan pokok, dan dibayarkan dari pendapatan kotor. Sedangkan tarifnya adalah dianalogikan kepada zakat emas dan perak yaitu sebesar 2,5 %, atas dasar kaidah “Qias Asysyabah”.
Zakat penghasilan/ profesi merupakan zakat yang wajib ditunaikan dari penghasilan rutin (a’thoyat) atas penghasilan atau hasil profesinya. Para ulama bersepakat menganalogikan zakat penghasilan/ profesi dengan dua jenis zakat sekaligus (qiyas syabah) yaitu nishab dan haul/ tempo pembayaran sama dengan zakat pertanian, sedangkan kadarnya sama dengan zakat emas.

Zakat profesi wajib dikeluarkan saat penghasilan sudah mencapai nishab yaitu 85 gram emas atau setara Rp. 5.240.000* perbulan dengan kadar 2,5% dari penghasilan yang diterima dan dibayarkan saat seseorang menerima penghasilan tersebut (bruto). Perhitungan zakat profesi dihitung sebelum dipotong oleh pengeluaran atau hutang yang lain.

*Nishab zakat profesi sebesar Rp 5.240.000 berdasarkan keputusan Ketua BAZNAS No. Kep. 016/BP/BAZNAS/XII/2015 tentang nishab zakat pendapatan atau profesi tahun 2016.

*Keputusan Baznas terbaru 2017 bisa dilihat di : http://simba.baznas.go.id/simbapedia/wp-content/uploads/2017/04/073-2017-Nilai-Nishab-Zakat-Pendapatan.pdf

 

2. MUHAMMADIYAH 

Musyawarah Nasional Tarjih XXV tahun 2000 di Jakarta telah menetapkan bahwa zakat profesi itu hukumnya wajib, dengan ketentuan nisab setara dengan 85 gram emas 24 karat, dan kadarnya sebesar 2,5%. Dalam hal ini berarti zakat profesi diqiyaskan kepada zakat mal (harta).

Sedangkan mengenai pengeluarannya, sebagaimana telah dibahas dan dimuat dalam Tanya Jawab Agama Jilid III cetakan ke-3 halaman 157-159, dan Jilid V cetakan ke-2 halaman 95-96, Tim saat ini masih cenderung berpendapat bahwa zakat profesi dikeluarkan setelah dikurangi biaya hidup yang ma’ruf (layak), yaitu yang benar-benar biaya kebutuhan pokok atau kebutuhan primer, seperti kebutuhan pangan, sandang, perumahan, biaya pendidikan, kesehatan, transportasi dan sebagainya. Dan ukurannya adalah sesuai dengan ‘urf masing-masing daerah.

3. MUI
MENETAPKAN :  FATWA TENTANG ZAKAT PENGHASILAN
Pertama  : Ketentuan Umum
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan “penghasilan” adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain- lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.Kedua  : Hukum
Semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nishab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram.

Ketiga  : Waktu Pengeluaran Zakat
1.  Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab.
2.  Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.

Keempat  : Kadar Zakat
Kadar zakat penghasilan adalah 2,5 %.

4. NU

Dalam menentukan nishab zakat profesi ada sebagian ulama’ yang menqiyaskannya dengan pertanian (zuru’) dan ada yang dengan perdagangan (tijarah). Karena ada kesamaan antara keduanya yaitu sama-sama hasil dari sebuah pekerjaan. Jadi, jika diqiyaskan dengan pertanian, maka berarti nishabnya sama dengan harga 815, 758 kg beras dan zakat yang harus dikeluarkan 5%, dan dikeluarkan setiap masa panen. Tetapi jika diqiyaskan dengan perdagangan maka nishabnya sama dengan harga emas 90 gram dan zakat yang harus dikeluarkan 2,50%, dikeluarkan setiap satu tahu sekali (haul).

Cara mengeluarkannya, hendaknya seorang muzakki menjumlah semua penghasilan kemudian kalau sampai satu nishab dikeluarkan sebagian hartanya sesuai dengan ketentuan. Mengeluarkan zakat seharusnya setiap tahun sekali, namun boleh dicicil (ta’jiluzzakat) dan dibayar setiap menerima gaji dengan prosentase yang ditentukan[1]. (baca: al-Zuahily.DR Wahbah. al-Fiqh aL-Islami wa Adillatuh: II/865)

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.