Memaafkan itu Sehat

Dalam surat Ali Imron ayat 133-134 Allah SWT berfirman:
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”.
Sudah seharusnya bagi seorang mukmin berbeda dalam memahami arti memafkan dibanding mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al-Quran. Meski banyak orang mengatakan mereka telah memaafkan seseorang yang telah menyakitinya, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Berbeda halnya dengan memaafkannya orang mukmin, memaafkannya mereka adalah tulus, karena seorang mukmin tahu bahwa manusia diuji didunia ini, belajar dari kesalahan, berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang mukmin juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil.
Memaafkan merupakan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang agar tetap sehat. Menurut suatu penelitian, para ilmuwan membuktikan bahwa orang-orang yang mampu memaafkan memiliki jiwa dan raga yang lebih sehat dibanding orang yang tidak mau memaafkan. Hal ini dikarenakan, orang yang belajar memaafkan merasa bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka dan mereka merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress, susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang lebih mudah memaafkan. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar sehingga menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi yang pada akhirnya akan memperbesar kemungkinan serangan jantung. Hal inilah yang menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung.
Sifat pemaaf merupakan resep yang telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan dan kebahagiaan. Kemarahan yang dipelihara hanya akan menyebabkan dampak ragawi yang buruk. Kemarahan dalam jangka panjang hanya akan menjadikan tubuh senantiasa dalam keadaan tegang atau emosi. Seorang ilmuwan Amerika meneliti jantung-jantung orang yang telah mati, seorang ilmuwan tersebut menimbang berat masing-masing jatung, didapatkannya ada jantung yang berat ada juga jantung yang ringan. Bukan jantung yang berat yang lebih baik, akan tetapi jantung yng ringanlah yang lebih baik. Ternyata setelah diteliti bahwa orang yg memiliki jantung yang ringan semasa hidupnya memiliki hati yang ringan, tidak mudah emosional akan tetapi lebih mudah memaafkan dan terhindar dari stress.

Iklan

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s