Mewaspadai Cedera Kepala

Cedera otak traumatik (traumatic brain injury) merupakan kasus yang sering terjadi setiap hari. Cedera otak ini terjadi akibat cedera kepala traumatik. Anda mesti mewaspadainya, karena sangat menentukan masa depan diri dan keluarga.

CEDERA kepala traumatik didefinisikan sebagai kelainan nondegeneratif (bukan proses penuaan) dan nonkongenital (tidak diturunkan) yang terjadi pada otak.

Hal itu terjadi akibat kekuatan mekanik dari luar yang berisiko menyebabkan gangguan temporer atau permanen dalam hal fungsi luhur (kognitif), fisik, dan fungsi psikososial, dengan disertai penurunan atau hilangnya kesadaran.
Kasus cedera kepala dapat dijumpai dalam berbagai tingkat kegawatdaruratan, mulai dari yang tidak bersifat gawat darurat, memiliki risiko keselamatan serius, sampai yang bersifat sangat fatal.

Cedera kepala merupakan epidemi tersembunyi, karena sebagian besar masyarakat belum begitu mengetahui apa itu cedera kepala serta akibatnya. Sekitar 15 persen pasien yang dirawat dengan cedera kepala akan mengalami skuele (problem gangguan kronik) sepanjang hidupnya.

Diperkirakan dua persen penduduk dunia setiap tahun mengalami cedera kepala. Di Amerika Serikat, 5,3 juta penduduk setiap tahun mengalaminya. Trauma menjadi penyebab utama kematian pasien berusia di bawah 45 tahun; hampir 50 persennya merupakan cedera kepala traumatik.

Penyebab cedera kepala traumatik yang terbanyak adalah akibat kecelakaan kendaraan bermotor (50 %), jatuh (21 %), dan olahraga (10 %). Puncak insiden terjadi pada usia lima tahun, 15-24 tahun, dan 70 tahun lebih. Laki-laki lebih sering mengalaminya daripada wanita.

Cedera kepala akan memberi gangguan yang lebih kompleks dibandingkan dengan trauma pada organ tubuh lainnya. Ini disebabkan struktur anatomik dan fisiologik dari isi ruang tengkorak yang majemuk, dengan konsistensi cair, lunak dan padat, yaitu cairan otak, selaput otak, jaringan saraf, pembuluh darah dan tulang.

Struktur anatomi kepala yang merupakan ruang tertutup juga dapat menyebabkan permasalahan yang tidak dijumpai pada organ lain, misalnya terjadinya peningkatan tekanan intrakranial (peningkatan tekanan ruang otak yang bisa mengakibatkan kematian).

Menurut bobotnya, cedera kepala dibagi menjadi tiga: ringan, sedang, dan berat. Yang paling banyak terjadi adalah cedera kepala ringan, yaitu 85 persen dari semua kasus. Selebihnya dalam kategori sedang dan berat.

Cedera kepala ringan banyak tercatat di unit gawat darurat rumah sakit dan praktik dokter, yang dikenal sebagai concussion (gegar otak). Sebagian besar bisa membaik dan pulih dalam waktu 3-6 bulan, tetapi 15 persen diantaranya mengalami problem kronis (gangguan) dalam emosi dan berfikir.

Gangguan yang terjadi setelah pasien mengalami gangguan cedera kepala ringan dapat berupa nyeri kepala, vertigo (gangguan keseimbangan), mudah lupa, lamban, fatigue (mudah lelah), serta sensitif terhadap suara dan sinar.
Cedera kepala sedang dan berat biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit. Seringkali pasien mengalami penurunan kesadaran yang bermakna dalam beberapa hari sampai beberapa minggu, selanjutnya mengalami gangguan berfikir, gangguan fisik, dan emosi berkepanjangan.

Setelah mengalami cedera kepala, pasien berisiko mengalami cedera yang sama dan berulang 2-3 kali lipat. Hal ini disebabkan perhatian pasien berkurang, reaksi lebih lambat (lebih impulsif), dan sulit mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Cedera kepala berulang ini mengakibatkan kerusakan otak yang lebih besar.
Komplikasi Setidaknya ada tujuh hal yang harus diperhatikan sebagai komplikasi cedera kepala. Pertama, terjadi kejang pascatrauma. Ini salah satu komplikasi serius. Insidensinya 10 %,  terjadi pada awal cedera 4-25 % (dalam 7 hari cedera), terjadi terlambat 9-42 % (7 hari setelah trauma).

Beberapa faktor risikonya adalah trauma penetrasi (trauma tusuk), perdarahan dan gegar otak. Sekitar 17 % pasien cedera kepala berat mengalami gangguan kejang-kejang dalam dua tahun pertama pascatrauma.

Kedua, yaitu demam dan menggigil, yang akan meningkatkan kebutuhan metabolisme dan memperburuk outcome. Hal ini sering terjadi akibat kekurangan cairan, infeksi, dan efek sentral.

Ketiga, hidrosefalus, yang dapat terjadi karena adanya sumbatan yang mengganggu aliran cairan otak. Gejala klinisnya ditandai dengan muntah, nyeri kepala, dimensia (pikun), ataksia (gangguan keseimbangan), dan gangguan kencing.

Keempat, spastisitas, yaitu peningkatan fungsi tonus yang tergantung dari kecepatan gerakan. Akan terlihat sebagai kekakuan, terutama di otot-otot anggota gerak atas (lengan) atau bawah (tungkai).

Kelima, agitasi pascacedera kepala. Sepertiga pasien akan mengalaminya pada stadium awal dalam bentuk delirium (bingung), agresi, akatisia (kegelisahan motorik, salah satu gejalanya penderita tidak dapat tenang, selalu menggoyangkan tungkai dan kaki terus-menerus saat duduk maupun berdiri), disinhibisi, dan emosi labil.

Keenam, gangguan perasaan, tingkah laku, dan fungsi luhur. Gangguan fungsi luhur dan tingkah laku lebih menonjol daripada gangguan fisik setelah cedera kepala dalam jangka lama.

Penelitian William (2001) terhadap 215 penderita cedera kepala menunjukkan, pada pasien-pasien cedera kepala sedang dengan komplikasi terdapat gangguan fungsi neuropsikiatri (kejiwaan) setelah enam bulan. Ini dipengaruhi lamanya koma, lama amnesia pascatrauma, area kerusakan cedera pada otak, mekanisme cedera, dan umur.

Ketujuh, sindroma post kontusio, yang merupakan komplek gejala yang berhubungan dengan cedera kepala. Dalam hal ini, 80 persen kasus terjadi pada satu bulan pertama, 30 persen pada tiga bulan pertama dan 15 persen pada tahun pertama.

Gejala-gejala somatik yang dialami antara lain nyeri kepala, gangguan tidur, vertigo, mual, mudah lelah, serta sensitif terhadap suara dan cahaya.
Depresi mayor dan minor ditemukan pada 40-50 persen kasus cedera kepala. Faktor resiko depresi pascacedera kepala adalah wanita, bobot cedera kepala, kepribadian premorbid (sebelum kejadian), dan gangguan tingkah laku. (32)

—dokter Dwi Pujonarko ”Onang” MKes SpS, spesialis saraf, dosen pada Bag / SMF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Undip / RSUP Dr. Kariadi Semarang.

About these ads

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s